Selamat Hari Ayah, Pak…

Selama ini saya hanya tahu di Indonesia hanya ada hari ibu. Ternyata ada juga hari ayah. Ya, mungkin biar adil. Ayah juga perlu diistimewakan, kan? Hari ayah ini jatuh pada tanggal 12 November. Saya mengetahuinya dari gembar-gembor di twitter. Sejak pagi sudah ada yang ngetwit ucapan “selamat hari ayah”. Saya tidak terlalu memperhatikan, sampai ada sebuah akun selebtwit yang ngetwit tentang hari ayah ini. Sebuah akun milik mahasiswa.

Dia hanya ngetwit beberapa kali. Isinya monolog seorang ayah. Harapan-harapan seorang ayah kepada anaknya yang sedang menempuh kuliah. Lalu, seperti biasa, terjadi interaksi dengan followersnya. Beberapa followers menanggapi. Ah kira-kira begini isi twitnya.

fym1 fym2

Dan masih banyak sambungan-sambungan twit dari followersnya.

Hmmmh.. sebentar, saya ambil nafas dulu..

Tiba-tiba mata saya berkaca-kaca. Ingat bapak. Kangen bapak. Semakin banyak twit yang saya baca, air mata semakin deras. Pak, aku kangen… Maaf belum bisa bahagiain bapak. Saya hanya bisa menangis dalam diam.

Apa yang bisa saya lakukan? Bapak hanya sempat melihat saya kuliah selama satu semester. Kondisi saat itu saya masih jarang pulang ke rumah. Jarang banget bisa ketemu bapak. Kalo ketemu pun gak banyak ngobrol. Saya belum bisa kasih apa-apa ke bapak. Bahkan, bapak gak tau berapa IP semester pertama saya. Bapak belum merasakan hadiah-hadiah kecil dari sisa uang jajan atau gaji mengajar atau bahkan sisa uang saku beasiswa semester pertama saya. Bapak belum melihat anaknya pakai rok dan blazer seperti seorang guru, seperti yang beliau cita-citakan. Bapak ingin anaknya jadi guru. Bapak keburu dipanggil sama Allah. Bapak..

Bapak pergi disaat saya mulai tinggal di dekatnya. Sebelumnya, saya hanya bisa bertemu bapak 1-2 bulan sekali. Sejak kuliah di Jakarta, saya bisa bertemu dengan bapak hampir setiap minggu. Tapi ternyata itu tak lama. Allah Cuma ngasih waktu sekitar delapan bulan buat saya menikmati waktu bersama bapak, dengan intensitas bertemu satu minggu sekali. Hanya delapan bulan. Saya belum sempat mengerti bapak sepenuhnya.

Saya hanya bisa kirim doa buat bapak. Saya hanya bisa berusaha menjadi anak yang baik. Saya hanya bisa melihat wajah bapak melalui foto. Saya sudah gak bisa meluk bapak. Saya sudah gak bisa berdiri di atas telapak kaki bapak. Saya gak bisa kasih apa-apa. Saya Cuma bisa kasih doa, Pak…

Abis baca twit-twit itu, saya pengen ngobrol sama bapak, pengen telpon bapak, pengen bilang sayang ke bapak. Tapi bapak udah gak bisa ditelpon. Saya Cuma bisa kasih doa. Ngomong sayang lewat doa. Akhirnya saya Cuma bisa telpon ibu.

Jangan sia-siakan waktu dan orang-orang yang kamu punya. Penyesalan baru akan terasa saat mereka udah gak ada. Bilang sayang sama ibu-bapak selagi mereka masih ada. Jangan sampe kaya saya. Cuma bisa bilang sayang lewat doa :’) Kasih waktu ke mereka selagi mereka ada. Cuma sebentar. Mungkin beberapa tahun lagi kamu bebas menghabiskan waktumu sepenuhnya untukmu. Selagi mereka ada, kasih yang mereka mau, kasih yang bisa kamu kasih. Selagi mereka masih ada :’)

Selamat hari ayah untuk seluruh ayah dan untuk para calon ayah di dunia :)

About these ads

4 thoughts on “Selamat Hari Ayah, Pak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s